Tempat Rekreasi Penuh Tapi Bioskop Masih Melompong, Salah Sapa?

Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021.

Jakarta, Akuratnews. com porakporanda Lagi-lagi, pandemi Covid-19 masih berdampak kaya pada para pekerja halus dan hiburan.

Industri film pun masih belum bergairah pasca pembukaan bioskop yang disertai dengan protokol kesehatan yang selektif belakangan ini. Publik sedang memilih tempat rekreasi jadi sarana hiburan ketimbang bioskop.

Ketua Ijmal Persatuan Pengusaha Film Nusantara (PPFI), Deddy Mizwar melahirkan, sampai hari ini belum ada langkah konkrit negeri membuat masyarakat kembali menonton ke bioskop.

“Meski sudah mematuhi adat kesehatan, masyarakat masih enggan datang ke bioskop. Les yang dilakukan pemerintah sedang sangat kurang. Kalau orang sudah bisa datang ke mal atau tempat tamasya, kenapa ke bioskop sedang jarang. Ini akhirnya berpengaruh pada keengganan produser menayangkan hasil karyanya ke hidup. Alhasil OTT jadi alternatif” kata Deddy dalam webinar menyambut Hari Film Nusantara 2021 bertema ‘Bisakah Pabrik Film Indonesia Andalkan Maklumat Digital OTT? ‘, Senin (5/4).

Deddy tetap melihat posisi hidup tidak dapat sepenuhnya tergantikan sebagai wadah penayangan film.

“Profit untuk bioskop bukan mati, tapi menurun. Mungkin bisa dicoba seperti di luar jati, bisa putar film secara bersama di OTT & bioskop, ” ucap bintang film senior ini.

Ia masih optimis zaman depan bioskop kedepannya bisa tetap hidup. OTT menurut perspektif Deddy, justru menjelma peluang para pelaku pabrik film yang kreatif.

CEO MD Pictures, Manoj Punjabi yang juga menjadi pembicara dalam webinar tersebut menyebut, pemilihan film untuk OTT harus lebih diskriminatif. Ia juga sepakat dengan apa yang diungkapkan Deddy.

“Kita juga harus menayangkan film dengan bagus dan berkualitas untuk bisa rilis di OTT dan juga di hidup. Tinggal perusahaan perfilman mengatur strategi pasar kedepannya, ” ujar Manooj.

Ia mengungkapkan, strategi rekan bisa diatur untuk pemutaran film di OTT & bioskop agar bisa menarik jumlah penonton, karena menurutnya, masing-masing platform bisa tahu dari survey di lapangan ketika pemutaran film ditayangkan.

“OTT menurut saya tidak bisa mewakili bioskop. OTT adalah maklumat tersendiri. Kita bisa mendirikan sendiri untuk versi OTT-nya. OTT dan bioskop perut jenis bisnis yang bertentangan. Di masa pandemi itu, OTT memberikan kesempatan buat film-film Indonesia tayang, ” ucap Manooj yang sebesar filmnya tayang di Disneystars ini.