Syekh Ali Jaber Ditusuk, Jangan Buru-buru Putuskan Pelaku Gila

Syekh Ali Jaber Ditusuk, Jangan Buru-buru Putuskan Pelaku Gila

Bandar Lampung, Akuratnews. com – Ulama Syekh Ali Jaber ditusuk saat mengisi kajian di Masjid Jalan Tamin, Kecamatan Tanjungkarang Tengah, Kota Bandar Lampung, Ahad (13/9).

Saat ini pelaku penusukan bernama Alpin Andria (24), sudah diamankan ke kantor polisi.

Ulama asal Madinah, Arab Saudi yang kini sudah menjadi WNI ini mengatakan, pelaku masih muda dan berbadan kurus.

“Saya lihat masih anak muda, agak-agak sekitar 20 tahun, ” ujar Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber melanjutkan, dirinya tidak mengetahui apakah pelaku berpose seorang diri atau ada orang lain yang mungkin melarikan diri setelah penusukan.

Pasca penusukan, pelaku nyaris dihakimi jamaah yang menimbrung dalam kajian tersebut, namun jadi dicegah oleh Syekh Ali Jaber.

“Saya kasihan lihat jamaah memukuli dia, saya sejumlah jangan dipukuli, serahkan saja ke polisi. Kemudian, pelaku diamankan ke ruang masjid, ” ujarnya.

Pasca penusukan itu, Syekh Ali Jaber dibawa ke Puskesmas terdekat guna mendapat perawatan. Dia mendapat 10 jahitan di lengah kanan bagian atas akibat insiden tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima, karakter yang berusia 22 tahun tersebut disebut sudah empat tahun merasai gangguan kejiwaan akibat ditinggal ibunya keluar negeri menjadi TKW dalam Hongkong.

“Ya pelaku penusukan telah diamankan di Polsek bersama barang bahan pisau dapur. Soal kabar pelaku mengalami gangguan jiwa masih kita dalami. Kemungkinan kasus penusukan terhadap Syekh Ali Jaber ini mau diambil alih Polresta Bandar Lampung, ” kata Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad  kepada wartawan.

Namun, Ketua Mahkamah Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin meminta kepolisian buat tidak cepat menyimpulkan bahwa pelaku penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber adalah orang gila hingga keputusannya terbebas dari jerat hukum.

Seperti diketahui, beberapa peristiwa penyerangan terhadap ulama beberapa waktu belakangan ini sering kali disimpulkan jika pelaku merupakan orang yang memiliki masalah kejiwaan atau gila.

“Kepada Polri agar tidak mudah menerima pengakuan dan kesimpulan bahwa pelakunya adalah orang gila, sebagaimana pernah terjadi pada era lalu yang sampai sekarang tidak ada kejelasan, ” ujar Din dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/9).

Hal yang sama diungkapkan praktisi patokan, Djudju Purwantoro. Polisi dikatakannya, wajib menerapkan dan menegakkan prinsip-prinsip (fairness and profesional of legal principles).

“Polisi diharapkan tak serta merta dengan gampang mengikatkan bahwa pelaku gila. Kalaupun diduga gila, kenapa pelaku penyerang tersebut bisa memilih korbannya yaitu para ustadz atau ulama, ” perkataan Djuju di Jakarta, Minggu (13/9).

Penyelidikan dan penyidikan melalui proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP), harus melibatkan pendapat pakar hukum yang independen dan terlatih.

“Perihal alasan permisif karena gila yang sering disimpulkan polisi kepada tersangka dalam cara penyelidikan atau penyidikan, seyogiyanya siap kewenangan hakim. Hakim lah yang memiliki kewenangan menyimpulkan dan membatalkan seorang terdakwa sebagai (alasan pemaaf) apakah secara alasan medis memang gila. Jika memang terbukti terdakwa gila, maka hanya Hakim dengan bisa memutuskan dibebaskan dari seluruh tuntutan pidana, ” ujarnya lagi seraya meminta segera dibongkar pemain intelektual insiden ini dan cepat menyeret pelakunya ke meja muda.