PKS Sorot Minimnya Dana Abadi Penelitian

PKS Sorot Minimnya Dana Abadi Penelitian

Jakarta, Akuratnews. com – Anggota Komisi VII DPR, Mulyanto mendukung Negeri meningkatkan anggaran dana abadi penelitian Iptek dari Rp 3 triliun menjadi Rp 5 triliun. Mulyanto menilai peningkatan anggaran ini perlu direalisasikan agar riset Iptek dapat berkontribusi optimal dalam pembangunan gaya saing bangsa.

Sebagaimana di amanatkan dalam dalam UNDANG-UNDANG No. 11 tahun 2019 mengenai Sistem Nasional Iptek, dimana di Pasal 62 ayat (1) disebutkan, Pemerintah membentuk dana abadi Penelitian, Pengembangan, Pengkajian. dan Penerapan buat menghasilkan Invensi dan Inovasi, oleh sebab itu sudah sepatutnya Pemerintah menyediakan taksiran yang layak untuk menunjang kegiatan riset Iptek.

Mulyanto mengingatkan alokasi anggaran riset Iptek ini jangan dipandang sebagaj biaya tapi harus dilihat sebagai investasi membangun daya saing bangsa. Minus dukungan anggaran yang memadai oleh karena itu kegiatan riset Iptek tidak mampu maksimal.

“Jadi, mana mungkin keunggulan kompetitif bangsa tersebut bisa sejajar dengan bangsa-bangsa asing di dunia, kalau pemerintah invalid perhatian terhadap pembangunan sektor penelitian dan teknologi ini, ” kena Mulyanto.

Mulyanto menyayangkan Pemerintah kurang memperhatikan pentingnya kesibukan riset Iptek ini. Hal itu terlihat dari alokasi anggaran untuk riset yang sangat kecil dibanding anggaran belanja barang-barang hasil penelitian negara lain.

Mulyanto mencontohkan, anggaran riset vaksin Corona dialokasikan hanya sekitar Rp. 10 miliar, sedangkan anggaran untuk pembelian vaksin impor bisa mencapai Rp. 25 triliun.

“Bahkan dibandingkan dengan anggaran influencer di media sosial saja, anggaran untuk riset vaksin ini kalah jauh.

Sebagai mantan pengkaji saya merasakan betul sulitnya menyelenggarakan riset Iptek karena keterbatasan anggaran. Inovasi yang dihasilkan jadi kurang maksimal karena tidak ada pertolongan pendanaan, ” imbuh mantan Penulis Kemenristek ini.

Mulyanto mengingatkan bahwa di Indonesia banyak peneliti hebat. Kualitas dan kapasitas keilmuannya tidak kalah dibanding peneliti asing. Sayangnya peneliti-peneliti itu tak didukung dengan anggaran yang penuh dalam melaksanakan riset Iptek. Sehingga tidak jarang peneliti harus bekerjasama dengan lembaga riset luar jati agar dapat melaksanakan riset dengan optimal.

“Sebenarnya itu sangat memalukan dan merugikan, ” tegas Mulyanto.

Sebelumnya Komisi VII DPR RI, yang menjadi mitra Kementerian Ristek/BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), mendorong penguatan dana abadi riset tersebut.

Dalam Rapat Kegiatan Komisi VII DPR RI secara Menteri Riset Dan Teknologi/Kepala BRIN (23/9/2020), Komisi VII DPR RI mendukung agar dana abadi riset ini ditingkatkan besarannya dari Rp. 3 triliun menjadi Rp. 5 triliun.