KPAI Jadi Perjuangan Guru PAUD Korban Oknum Brimob & PTC

KPAI Jadi Perjuangan Guru PAUD Korban Oknum Brimob & PTC

Jakarta, Akuratnews. com – Perjuangan Guru PAUD Insan Aulia yang beralamat dalam Jl. Pancoran Buntu II RT 06 RW 02, Kel. Pancoran, Kec. Pancoran, Jaksel, untuk memperoleh keadilan, mendatangi Kantor Komisi Pelestarian Anak Indonesia (KPAI). Misi mendapatkan keadilan didasari oleh pendudukan PAUD yang alih fungsi oleh oknum dari Pertamina Training and Consulting (PTC) dan oknum Brimob.

Ketua Komite PAUD, Tri Ratna Darma Putra menjelaskan, kedatangan pihaknya ke kantor KPAI mengadukan kronologis kejadian, bahwa bangunan PAUD Insan Aulia diakuisisi oleh oknum dari Pertamina Training and Consulting dan oknum Brimob.

“Kami merasa kehilangan fasilitas pelajaran. Jadi kami bingung setelah pandemi anak-anak mau sekolah dimana. Sedangkan bangunannya sendiri sudah dialih fungsikan menjadi posko dari mereka, tersebut yang kami sesalkan. Karena bagaimanapun anak-anak ini juga harus benar pendidikannya terpenuhi, ” terangnya semusim setelah menemui pihak KPAI, Selasa (29/9).

“Pengaduan awak karena disini ada ranah perdatanya. Mereka (KPAI) menerima dan menghadapkan kami untuk melaporkan ke Biro Pendidikan, karena ranah perdatanya yang terkait lahan ini sebenarnya milik siapa. Kalau lahan mereka (KPAI) tidak urusan, yang penting anak-anak ini jangan sampai hak-haknya dilanggar seperti itu, ” tambahmya.

Terkait klaim kepemilikan, Putra menjelaskan, tanah di mana berdirinya PAUD Insan Aulia yang sudah berdiri enam tahun merupakan desa sengketa. Pertamina mengklaim bahwa mempunyai aset tersebut.

“Ahli waris dari keluarga Almarhum Sanyoto juga, secara pengadilan pun mereka di tingkat Mahkamah Agung memenangkan putusan itu. Jadi hanya selalu klaimnya Pertamina ini yang tetap di gaungkan sama mereka. Kalau mereka memiliki AJB dari lahan tersebut, tapi tidak disosialisasikan ke warga bahwa yang sebenarnya berlaku seperti apa, ” ungkapnya.

Psikologis Terganggu

Sementara itu, Pengasuh PAUD Insan Aulia Siti Bariroh menjelaskan, bagaimana kondisi saat itu sangat mengganggu psikologis anak-anak didiknya. Tempat belajar yang berada dalam lingkungan warga, memungkinkan keadaan itu terjadi.

“Kondisi saat ini karena masih di lingkungan anak-anak, mungkin menganggu psikolog anak. Mereka sedih melihat bangunan tempat sekolah sudah banyak polisi. Anak-anak membentuk seperti itu pemikirannya. Jadi istilahnya serem. Ko, kenapa tempat sekolah kami sama oknum-oknum, ” terangnya sambil berlinang.

“Alhamdulillahnya, anak-anak masih tetap belajar meskipun melalui online (PJJ)
Sedang saya kasih pelajaran, anak-masih berlaku di sekitar lingkungan sekolah. Apalagi anak-anak yang melihat, saya lara sekian lamanya kita di PAUD ternyata berakhir seperti ini, ” pungkasnya.