duh-lima-kasus-baru-covid-19-kota-banjar-muncul-dari-klaster-senam-1

Duh.. Lima Kasus Baru Covid-19 Kota Banjar Muncul Daripada Klaster Senam

Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

Banjar, Akuratnews. com – Urusan terkonfirmasi positif  Covid-19 dalam kota Banjar, Jawa Barat kembali muncul. Kali itu berasal dari  klaster senam  di Kelurahan Mekarsari.

Hasil tracing awak BLUD UPTD Puskesmas Dukuh 3 menemukan lima urusan baru yang berasal daripada klaster senam ini.

“Klaster senam ini terpapar dari salah seorang pemilik sanggar senam yang telah menghadiri acara resepsi pernikahan, ” ungkap dr. Sari Wahyu Ningrum, Besar BLUD UPTD Puskesmas Banjar 3 kepada wartawan, Kamis (18/3).

Penggandaan kasus Covid-19 di Kelurahan Mekarsari dan Kelurahan Banjar yang berada di wilayah penanganan Puskesmas Banjar 3 dikatakannya cukup tinggi.

Menurut dr. Pati, mayoritas berasal dari kluster pelaku perjalanan dan klaster hajatan atau kegiatan dengan berkerumun.

“Dari hasil tracing, warga dengan menjalankan isoman (isolasi mandiri) masih banyak yang biut dan malah beraktivitas di luar sehingga memaparkan ke kontak eratnya. Pengawasan pada tingkat RT dan RW terkadang berbenturan dengan klub saat memberikan imbauan maupun edukasi, ” ucapnya.

Untuk mengantisipasi warga isoman beraktivitas keluar, Puskesmas Banjar 3 menyiasatinya dengan melakukan sistem Delivery Order (DO) pasokan obat bagi pasien isolasi mandiri (isoman).

“Kami membentuk grup Whatsapp pantau Isoman bersama warga isoman sehingga komunikasi terbina untuk memantau kesehatan pasien isoman, ” pungkasnya.

Tatkala itu, hingga 17 Maret 2021, sebanyak 46 karakter warga kota Banjar, dinyatakan terkonfirmasi positif virus Covid-19.

46 karakter tersebut merupakan pasien positif berasal dari klaster tim, yang beberapa hari belakang meningkat secara signifikan.

Juru bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Banjar, H. Agus Nugraha mengatakan, penyebab meledaknya klaster tersebut diakibatkan beberapa faktor yang menjadikan penularan dalam lingkungan keluarga hingga mudah menyebar kepada anggota suku lainnya.

“Kurang disiplin menerapkan protokol kesehatan di lingkungan keluarga, ” kata Agus, Rabu (17/3).

Selain tersebut, faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan klaster keluarga diantaranya fasilitas penunjang pasien nyata selama isolasi mandiri dengan kurang mendukung.

“Bisa jadi di pada satu rumah ada satu anggota keluarga yang positif terus isolasi mandiri & tidak menerapkan protokol kesehatan tubuh, serta fasilitas yang lain digunakan secara bersama-sama, itu juga bisa jadi salah satu faktor penyebabnya, ” katanya.