AM Hendropriyono: Konflik Palestina dan Israel Bukan Urusan Indonesia!

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

AKURATNEWS – Maraknya pro-kontra dukung-mendukung konflik Israel-Palestina disikapi mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Jenderal (Purn) AM Hendropriyono dengan menyatakan Palestina dan Israel bukan urusan Indonesia, memperbedakan urusan mereka, bangsa Arab dan Yahudi.

“Urusan Indonesia adalah kadar kita dan hari depan anak cucu kita, ” tegas Hendropriyono di Jakarta, Selasa (18/5).

Hal tersebut disampaikan Hendropriyono di depan sesama anggota Kerukunan Keluarga (KEKAL) Akmil 1967.

“Untuk nasib bangsa kita, kami mohon KEKAL Akmil 1967 tidak diam saja, akan tetapi mikir, ngomong dan berbuat sebisanya. Negara kita cukup diserang oleh pemikiran aliran khilafah, ” kata Hendropriyono.

Menurutnya, beberapa orang sudah terbawa arus pengkhianatan mendukung ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme, atau aliran asing apapun. Ada juga oknum aparat militer & polisi, apalagi Aparatur Biasa Negara (ASN), juga politisi.

“Kalau tersedia yang melecehkan saya karena membela filsafat dasar bani kita, Pancasila, tolong mencantumkan barisan dengan saya untuk membela diri, bangsa kita sendiri. Ironis sekali karakter yang mengritik saya menyelamatkan Pancasila, demi membela kampung sendiri, tapi dia berkobar-kobar membela Palestina, ” ujarnya.

Lebih jauh Hendropriyono mempertanyakan apakah pengeritiknya tahu tentang siapa Palestina dan Israel itu?

“Apakah pengkhianat itu kenal dengan Mahmoud Abbas, atau kenal dengan Ismail Haniyeh, atau Reuven Rivlin, atau Benjamin Netanyahu? Aku yakin tidak kenal. Dengan dia kenal adalah anak, istri, mantu, dan cucu sendiri. Kenapa yang dibela orang-orang yang tidak lumrah? ” tanya Hendropriyono.

Pernyataan ini dikemukakan Hendropriyono sekaligus menanggapi keterangan tentang adanya mantan politisi yang tidak senang terhadap sepak terjangnya yang kukuh membela Pancasila, melawan haluan asing.

Hendropriyono juga mengingatkan tentang kehancuran Libya dan Muammar Khadaffi. Pemimpin Libya yang dicintai oleh 90 persen rakyatnya hancur akibat pengkhianat dengan jumlahnya hanya 10 upah dari penduduk Libya.

Akibat provokasi Barat dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kaum Libya membunuh Khadaffi dengan memberikan kesejahteraan. Khadaffi dihajar secara membabi-buta oleh orang yang notabene rakyatnya sendiri. Orang-orang yang telah diantarnya sebagai pemilik produk domestik bruto (GDP) tertinggi bagi kapita di dunia.

Libya memiliki nilai harapan hidup terpanjang & angka kemiskinan yang bahkan lebih rendah dibanding Kerajaan Belanda. Akibat provokasi serta pemberontak propaganda barbar Barat dan NATO, rakyat rela membunuh yang mengantarkannya untuk menikmati pendidikan gratis, servis kesehatan gratis, listrik percuma, pinjaman tanpa bunga, mematok apartemen gratis saat mereka menikah.

“Lihatlah negara mereka kini benar di bawah standar ketenangan dan ekonomi. Mengerikan. Zona, penyesalan bukan datang dalam depan, ” kata Hendropriyono mengingatkan.

Tinggi Hendropriyono, apakah Indonesia bersetuju seperti negeri lain yang hancur akibat propaganda oleh kaum yang ingin menghancurkan NKRI dengan mengatasnamakan pegangan.

“Saya mohon para sobatku yang tercinta bergandengan tangan dengan beta melawan pikiran penganut ideologi-ideologi asing yang sesat itu. Mereka orang yang terbawa arus sampai lupa diri, lupa anak, lupa cucu, untuk hari depan mereka, ” kata Hendropriyono.

Mereka, kata Hendropriyono, malah mengurus orang asing yang belum tentu bakal membalas budi jika mereka menang melawan musuhnya. Bahkan mungkin mereka akan mengebom anak cucu kita datang mati dan cacat. Tak ada dalil balas sifat dalam politik.

“Jadi para sahabatku dengan tercinta, kalau ada yang mengritik saya atau kita dalam berbicara melawan khilafah atau ideologi apapun, mohon di-counter. Lawan, jangan kecil. Jangan juga diam sekadar. Karena diam berarti menyelenggarakan pembiaran. Dan, itu merupakan kejahatan juga. Disebut jadi crime of omission, yakni kejahatan karena membiarkan karakter melawan negara, bangsa kita sendiri, ” papar Hendropriyono.

Ia biar mengajak dan berharap, sebelum akhir hayat, bangsa & negara Indonesia tetap datang dengan ideologi Pancasila. Pula belajar dari Libya, Suriah, Afghanistan, Yaman, yang asyik.

“Kita harus tetap berdiri di untuk Negeri bangsa kita tunggal. Bukan di atas desa Palestina, bukan Israel, bukan Arab, ” pungkas Hendropriyono.